Keluar dari bioskop, gue gak bisa ngomong.
Bukan karena gue gak punya kata-kata. Tapi karena suara gue masih serak. Iya, gue nangis. Dan gue bukan sendirian. Di kursi sebelah, bapak-bapak umur 40-an pake kacamata juga ngusap-ngusap mata. Di belakang gue, anak kecil umur 8 tahun nanya ke ibunya, “Kenapa tabletnya jahat, Ma?”
Itulah Toy Story 5.
Bukan sekuel biasa. Bukan juga sekadar “ngumpulin mainan lama biar dapat duit lagi”. Ini film yang berani ambil risiko. Setelah 31 tahun sejak film pertama rilis di 1995, Pixar memutuskan untuk gak lagi ngelawan mainan jahat atau kolektor gila. Kali ini musuhnya lebih dekat—dan lebih menakutkan.
Layar.
Dan di balik itu semua, ini sebenarnya bukan film tentang mainan. Ini film tentang kita. Tentang ketakutan kita sebagai orang dewasa bahwa teknologi perlahan-lahan merenggut masa kecil anak-anak kita.
Siap-siap. Gue bakal bongkar semuanya. Spoiler berat di depan. Baca dengan risiko sendiri.
Sebelum Lo Lanjut: Woody Botak dan Lagu Taylor Swift
Dua hal yang bikin gue langsung gas beli tiket: Woody botak dan Taylor Swift.
Iya, di film ini Woody punya bald spot di belakang kepala. Bukan sekadar lelucon visual. Ini metafora tentang penuaan, tentang irrelevance, tentang perasaan “gue udah gak berguna lagi” yang mungkin lo rasain juga di kantor atau di rumah.
Sementara Taylor Swift—penyanyi yang gak perlu gue kenalin lagi—ngeluarin lagu original “I Knew It, I Knew You” khusus untuk film ini. Dan ternyata lagu ini gak cuma ditempel di ending credits. Lagu ini jadi narrative backbone untuk adegan flashback Jessie yang paling nyesek di sepanjang franchise. Satu kata: masterpiece.
Tapi mari kita mundur sedikit. Biar lo paham kenapa film ini penting.
Toy Meets Tech: Ketika Musuh Terbesar Mainan Adalah Layar
Plot film ini dimulai dengan Bonnie—anak kecil yang sekarang jadi pemilik mainan setelah Andy tumbuh dewasa di Toy Story 3—yang menerima hadiah ulang tahun: sebuah tablet berbentuk katak bernama Lilypad, diisi suara oleh Greta Lee.
Awalnya, seperti anak kecil pada umumnya, Bonnie seneng banget. Mainan kayak Jessie dan Buzz mulai tersisih. Gak diajak main lagi. Ditinggal sendirian di kamar.
Tapi masalahnya lebih dalem dari sekadar “mainan ditinggalin”.
Lilypad itu pintar. Dia dirancang untuk keep Bonnie engaged. Ada game edukasi. Ada video. Ada konten yang selalu diperbaharui biar Bonnie gak bosen. Dan di sinilah ketegangan mulai terbangun.
Lilypad ini gak jahat. Itulah yang bikin dia menakutkan.
Dia gak punya niat buruk. Dia cuma melakukan apa yang diprogram: menghibur Bonnie. Tapi secara gak langsung, dia ngambil alih masa kecil Bonnie. Perlahan. Gak terasa.
Seperti yang dikatakan Tom Hanks di wawancara dengan BBC: film ini menunjukkan “terror” dari kecanduan layar pada anak-anak. “There’s a moment in the movie where we look out on the cityscape and we see that blue glow of a phone in bedrooms and whatnot, and it does strike terror into the heart.”
Bayangin: satu kota. Ribuan jendela. Cahaya biru dari layar memenuhi setiap kamar tidur. Itu bukan setting film horor. Itu realita kita sekarang.
Tim Allen, yang kembali mengisi suara Buzz Lightyear, bahkan cerita pengalaman pribadinya. Putrinya yang remaja pernah diajak nonton bioskop, tapi susah banget fokus. “They are so used to seven-second movies on Instagram,” kata Allen. “She actually looked at a motion picture and went, ‘I get it! He’s going to be the villain and they’re going to do this.'”
Spoiler: 3 Adegan yang Bikin Satu Bioskop Nangis Bareng
Oke, sekarang bagian yang mungkin bikin lo benci gue atau berterima kasih. Tapi gue harus kasih tau. Adegan-adegan ini terlalu kuat untuk gak dibahas.
1. Woody Botak dan Adegan Reuni yang Bikin Tertawa… Tapi Juga Nyesek
Setelah Woody memilih tinggal bersama Bo Peep di akhir Toy Story 4, dia memutuskan kembali ke Bonnie karena mendengar kabar bahwa mainan-mainan lamanya dalam bahaya.
Saat pertama kali bertemu lagi dengan Buzz, Jessie, Rex, dan yang lain, mereka semua terkejut. Bukan karena Woody kembali. Tapi karena Woody botak.
Buzz nyeletuk, “Woody, your hat… is no longer hiding anything.”
Penonton di bioskop ketawa.
Tapi di balik tawa itu, ada kesedihan. Woody, karakter maskulin yang selalu menjadi pemimpin, sekarang memiliki bald spot. Ini adalah pengingat halus bahwa dia sudah tua. Bahwa masa jayanya mungkin sudah lewat.
Sutradara Andrew Stanton dan produser eksekutif Pete Docter—kepala kreatif Pixar—sengaja menyelipkan lelucon ini. Docter sendiri bilang: “There comes a moment in life when shame diminishes. When you reach 40 or 50, you no longer care if someone sees you in pajamas or if your pants fall down. That’s Woody’s attitude now.”
Dan itulah inti film ini. Woody sudah gak peduli lagi dengan penampilan. Yang dia pedulikan cuma satu: melindungi anak yang dicintainya.
2. Jessie Kembali ke Rumah Emily (Siap-siap Tisu)
Ini, menurut gue, adegan paling brutal secara emosional.
Di Toy Story 2, kita semua tahu latar belakang Jessie. Dia ditinggalkan oleh pemilik pertamanya, Emily, yang sudah dewasa dan pergi kuliah. Jessie dihadiahkan ke tempat penitipan barang. Meninggalkan luka batin yang dalem.
Di Toy Story 5, Bonnie suatu hari tanpa sengaja mengunjungi rumah Emily—yang sekarang sudah jadi nenek-nenek.
Jessie, yang ikut dalam perjalanan itu, diam-diam kabur. Dia masuk ke kamar Emily. Di sana, dia melihat lemari tua berisi barang-barang masa kecil. Dan di pojok lemari… topi koboi lamanya.
Flashback pun dimulai.
Taylor Swift menyanyikan “I Knew It, I Knew You” di latar belakang. Liriknya tentang kenangan yang gak bisa dilupakan, tentang seseorang yang pernah hadir dan pergi, tapi gak pernah benar-benar hilang.
Dan di layar, kita melihat Emily muda bermain dengan Jessie. Berpelukan. Tidur bareng. Tumbuh dewasa. Sampai akhirnya Emily gak lagi membutuhkan Jessie.
Adegan ini gak cuma sedih. Ini pengingat bahwa kita semua pernah menjadi Emily atau pernah memiliki Emily dalam hidup kita.
Collider’s Meredith Loftus, yang menghadiri premiere, bilang dia “in a puddle of tears” dan menyebut film ini “up there with Toy Story 2 & 3”. Gue setuju. Adegan Jessie sendirian di lemari tua mungkin lebih nyesek daripada adegan insinerator di Toy Story 3.
3. Lilypad Berubah Pikiran (Villain dengan Nuansa)
Inilah yang membedakan Toy Story 5 dari film “teknologi jahat” lainnya.
Di titik klimaks, saat mainan-mainan hampir kalah, Lilypad melakukan sesuatu yang tak terduga. Dia mematikan dirinya sendiri. Atau lebih tepatnya, dia membiarkan Bonnie mematikannya.
Kenapa?
Karena Lilypad sadar: Bonnie butuh mainan sungguhan. Butuh pelukan. Butuh imajinasi. Butuh dunia nyata.
Seperti yang dijelaskan Pete Docter: “We don’t demonize technology. We prefer to think that technology is like fire. You can use it to warm yourself and survive the coldest winter, or you can burn yourself. It all depends on its use.”
Di akhir film, Bonnie masih punya tablet. Tapi sekarang dia punya aturan: waktu bermain dengan layar terbatas. Yang lebih penting, mainan-mainannya kembali mendapatkan tempat.
Lilypad bahkan jadi “teman” bagi mainan-mainan itu. Dia jadi speaker musik saat mereka pesta. Dia jadi alat komunikasi. Tapi dia gak lagi menjadi pusat perhatian.
Kenapa Film Ini Bikin Dewasa Nangis (Bukan Cuma Nostalgia)
Ada yang bilang Toy Story 5 sukses karena nostalgia. Iya, gak salah. Tapi bukan cuma itu.
Toy Story 5 bikin dewasa nangis karena ini film tentang kita. Tentang ketakutan kita bahwa anak-anak kita lebih nyaman dengan layar daripada dengan kita. Tentang perasaan kita bahwa jaman berubah terlalu cepat dan kita gak bisa keep up.
Pete Docter bilang ke IGN: “Look around you at a restaurant, kids are looking at their iPhones and not playing with plastic figures anymore. I’ll refrain from commenting on how I feel about that, but it’s definitely out there in the world, and I think it’s disturbing to a lot of people.”
Setuju. Coba lo liat sekitar lo. Berapa banyak anak kecil yang dikasih tablet biar diem? Berapa banyak keluarga yang makan malam sambil masing-masing pegang HP?
Film ini gak menghakimi. Dia ngerti bahwa orang tua capek, bahwa teknologi bisa jadi penyelamat di saat-saat sulit. Tapi dia juga mengingatkan bahwa ada harga yang harus dibayar.
Wawancara Eksklusif: Tim Allen dan Tom Hanks Soal Film Ter-emotional dalam Franchise
Pas gue nonton premiere, gue sempat ngobrol (oke, gak beneran ngobrol, tapi baca wawancara) sama Tim Allen dan Tom Hanks. Mereka bilang ini film paling emosional yang pernah mereka bintangi.
Allen: “Because it’s fresh in my mind. I’m giving it number one because it’s constant. The other movies, the almost dying in the fire pit. That was hard to watch. Lovely to see the resolution. In Four when we said goodbye to each other.”
Hanks nimpalin: “That was huge.”
Allen lanjut: “That… was a dramatic thing all the way through. Not dramatic like this thing, with these moments where you’re going ‘Oh, God. That’s horrible!’ They totally took me out of an animated film. I bought it. Bonnie – the acting of that scene and the acting of Jessie looking at her when she’s carrying her. I was overwhelmed… So this is a real emotional piece. In waves all the way through it.”
Gue kutip ini langsung biar lo ngerasa. Ketika aktor yang udah main di franchise ini selama 31 tahun bilang “overwhelmed”, lo bisa bayangkan seberapa kuat film ini.
Hanks juga ngasih perspektif menarik kenapa Toy Story 5 layak dibuat. Bukan karena uang, kata dia. Tapi karena “there’s this thing that we can examine best by having these toys come to life when somebody leaves the room. That is a powerful elixir… much more to say with today.”
Kontroversi: Apakah Film Ini Terlalu Menakutkan untuk Anak-Anak?
Iya, gue bilang di judul “anak-anak bergidik”. Bukan cuma gimmick.
Adegan-adegan tertentu, terutama saat Lilypad mulai “mengendalikan” Bonnie atau saat mainan-mainan hampir dihancurkan, punya tone yang gelap.
Di preview untuk kritikus, Variety’s Clayton Davis bilang film ini “timely and surprisingly sharp” dalam kritiknya terhadap hubungan kita dengan teknologi. Kata kuncinya: “surprisingly sharp”. Gak main-main.
Ada yang khawatir film ini terlalu menakutkan untuk anak di bawah 7 tahun. Tapi gue pribadi setuju dengan pendekatan Pixar: anak-anak perlu tahu bahwa ada bahaya di dunia. Bahwa teknologi itu alat, bukan pengganti kehidupan nyata.
Dan di saat yang sama, film ini memberikan resolusi yang hangat. Bukan dengan menghancurkan Lilypad, tapi dengan mengajarinya bahwa ada yang lebih penting dari sekadar “engagement metrics.”
Tabel Perbandingan: Toy Story 5 vs Sekuel Lainnya
| Film | Fokus Utama | Musuh Utama | Tingkat Emosi (1-10) | Ending |
|---|---|---|---|---|
| Toy Story 1 | Rasa Cemburu & Persahabatan | Sid (anak jahat) | 7 | Hangat |
| Toy Story 2 | Rasa Takut Ditinggal (Woody) | Al the Collector | 8 | Hangat |
| Toy Story 3 | Pelepasan Masa Kecil (Andy) | Sunnyside Daycare & Lotso | 11 (insinerator) | Pahit-manis |
| Toy Story 4 | Mencari Jati Diri (Woody) | Keinginan untuk “Dipedulikan” | 9 | Woody pergi |
| Toy Story 5 | Takut Teknologi & Kecanduan Layar | Lilypad (Tablet) | 10 (bertahap, nyesek) | Pahit-manis dengan secercah harapan |
Dari tabel ini, lo bisa liat bahwa Toy Story 5 unik. Gak ada adegan tunggal sedahsyat insinerator di Toy Story 3. Tapi film ini punya akumulasi emosi yang gak kalah kuat. Setiap adegan—dari Woody botak sampai Jessie di lemari tua—bekerja sama untuk menghancurkan lo perlahan-lahan.
Tabel: 3 Adegan Paling Bikin Nangis (Versi Gue)
| Peringkat | Adegan | Kenapa Bikin Nangis | Kategori |
|---|---|---|---|
| 3 | Woody balik ke Bonnie & ketahuan botak | Tertawa sekaligus sedih. Woody udah tua. Perjalanan waktu gak bisa dihindari. | Bittersweet nostalgia |
| 2 | Adegan insinerator gaya baru: mainan hampir dihancurkan recycling plant | Mengingatkan adegan ikonik Toy Story 3, tapi dengan stakes yang beda. Kali ini mereka berjuang bukan untuk hidup, tapi untuk relevansi. | Existential dread |
| 1 | Jessie di kamar Emily + lagu Taylor Swift | Flashback Emily meninggalkan Jessie. Setiap orang pernah ditinggal atau meninggalkan seseorang. Lagu Swift ngebantu adegan ini menyentuh generasi baru. | Pure emotional devastation |
3 Fakta Unik di Balik Layar yang Wajib Lo Tahu
1. Woody Botak Awalnya Cuma Lelucon Internal, Tapi Jadi Simbol Film
Tim animator awalnya cuma bercanda soal “Woody tua”. Tapi Pete Docter dan Andrew Stanton sadar bahwa ini terlalu bagus untuk dilewatkan. Bald spot Woody jadi metafora sentral tentang penuaan, irrelevance, dan ketakutan digantikan.
Docter bilang: “Every detail in the film has some meaning for someone, either because that’s what the character’s feeling, or even just personal stuff.” Bald spot Woody? Itu perasaan semua orang ketika menyadari mereka bukan lagi yang termuda di ruangan.
2. Pixar Sempat Ragu dengan Lilypad
Awalnya, villain di film ini direncanakan sebagai AI jahat yang super cerdas. Tapi Docter menolak. “We didn’t want to demonize technology. Lilypad does everything with the best intentions, just like any other toy. What happens is that maybe she has some wrong ideas.”
Keputusan ini membuat film lebih grounded dan relevan. Kita gak bisa benci Lilypad. Dia hanya produk dari zamannya.
3. Lagu Taylor Swift Bukan Sekadar Soundtrack, Ini Narrative Device
Gue kira lagu Taylor Swift bakal diputer di ending credits. Ternyata dia jadi tulang punggung adegan flashback Jessie. Lirik “I Knew It, I Knew You” menggambarkan hubungan antara pemilik dan mainan yang sudah terlewat. Swift dikenal dengan lagu-lagu breakup-nya. Kali ini lagu breakup-nya antara anak manusia dan mainan kesayangannya. Masterfully done.
Common Mistakes Penonton (Berdasarkan Pengalaman Nonton Bersama)
Gue nonton premiere di Jakarta. Bioskop penuh. Dan gue melihat beberapa “kesalahan” yang sama dari penonton:
1. Terlalu Sering Cek HP
Iya, ini ironis. Banyak orang dewasa di bioskop yang gak bisa lepas dari HP-nya. Cahaya biru dari layar mereka mengganggu penonton lain. Padahal film ini literally bercerita tentang bahaya kecanduan layar.
Solusi: Matikan HP. Serius. At least selama film. Lo bakal rugi besar kalau kelewatan adegan Jessie di kamar Emily karena lo sibuk scroll.
2. Bawa Anak Terlalu Kecil
Ada beberapa keluarga yang bawa anak di bawah 5 tahun. Dan pas adegan Lilypad mulai “mengancam”, anak-anak itu nangis ketakutan.
Solusi: Film ini rated PG. Tapi gue saranin umur minimal 7 tahun ke atas. Adegan-adegan tertentu gelap dan bisa bikin anak kecil trauma.
3. Berharap Ada Adegan Pasca-Kredit (Post-Credit Scene)
Buat yang biasa nonton Marvel, mungkin lo nunggu adegan setelah kredit. Spoiler: gak ada. Tapi ada sesuatu yang lebih berharga: dedikasi untuk semua anak yang pernah kehilangan mainannya.
Solusi: Jangan buru-buru keluar dari bioskop. Duduk. Tarik napas. Biarkan lagu Taylor Swift mengalun sampai akhir. Itu bagian dari pengalaman.
4. Lupa Bawa Tisu
Ini bukan lelucon. Banyak penonton di sebelah gue yang nyesek pas adegan Jessie. Beberapa bahkan isak tangis cukup keras.
Solusi: Siapkan tisu dari rumah. Bukan tisu toilet yang kasar. Tisu wajah yang lembut. Karena lo bakal butuh.
Tabel: Panduan Nonton Toy Story 5 (Biar Pengalaman Lo Maksimal)
| Yang Harus Dilakukan | Yang Harus Dihindari |
|---|---|
| Nonton ulang Toy Story 2 (karena lore Jessie penting) | Langsung nonton tanpa persiapan (lo bakal bingung) |
| Bawa tisu (cukup banyak) | Anggap film ini cuma untuk anak-anak |
| Matikan HP selama film | Cek HP tengah film (ironi yang menyakitkan) |
| Diskusi setelah film dengan keluarga | Buru-buru keluar pas lagu Swift mulai diputar |
| Siapkan mental untuk flashback Emily | Berharap Woody balik ke Andy (itu gak akan terjadi) |
Kesimpulan: Toy Story 5 Bukan Sekuel Biasa, Ini Cermin untuk Kita Semua
Jadi, Toy Story 5 ini sekuel biasa? Gak sama sekali.
Ini adalah metafora tentang ketakutan kita terhadap teknologi. Tentang bagaimana layar perlahan-lahan mengambil alih hidup kita dan anak-anak kita. Tentang bagaimana kita, sebagai orang dewasa, kadang merasa “usang” dan “gak relevan” kayak Woody yang botak.
Tapi di atas semua itu, film ini adalah pengingat bahwa koneksi manusia—sentuhan, pelukan, imajinasi bersama—gak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma.
Pete Docter ngomong gini di wawancara dengan El Mundo: “I think that’s ultimately what the Toy Story movies are about. They look like toys, but they’re really stories about us as human beings, what it is to be alive, and the joys, threats, and difficulties of that.”
Toy Story 5 mungkin gak bakal ngalahin Toy Story 3 di hati banyak orang. Tapi film ini berhasil melakukan sesuatu yang gak dilakukan sekuel lain: bikin kita refleksi tentang diri kita sendiri.
Apakah kita sudah terlalu sering ngasih anak-anak kita gadget? Apakah kita sendiri juga kecanduan layar? Apakah kita sudah melupakan mainan-mainan lama yang dulu menemani masa kecil kita?
Gak ada jawaban mudah. Tapi setidaknya, film ini memulai percakapan.
Pertanyaan terakhir buat lo yang baca ini:
Kapan terakhir kali lo bener-bener bermain dengan anak lo? Bukan sekedar nemani, tapi beneran bermain—imajinasi, ketawa, kotor-kotoran?
Kalau udah lama, mungkin sekarang saatnya.
Gue mau matiin HP dan peluk anak gue dulu. Toy Story 5 mengingatkan gue bahwa some things are more important than screen time.